resensi film hafalan shalat delisa
Dalamperawatannya, Beberapa waktu lamanya Delisa tidak sadarkan diri, keadaannya tidak kunjung membaik juga tidak sebaliknya. sampai ketika seorang ibu yang di rawat sebelahnya melakukan sholat tahajud, pada bacaan sholat dimana hari itu hafalan shalat delisa terputus, kesadaran dan kesehatan Delisa terbangun. kaki delisa harus diamputasi.
HafalanShalat Delisa (Delisa's Salat Recitation) is 2011 Indonesian drama film which was released on December 22, 2011. Directed by Sony Gaokasak and starring Nirina Zubir and Reza Rahadian, the film is based on the best-selling fiction novel by Tere Liye with the same title.The whole film was shot in Aceh.. Plot. Delisa (Chantiq Schagerl), as a common little girl, had a wonderful life in
Resensi Film; Hafalan Shalat Delisa. 2011:: Drama:: 106 menit:: SEMUA UMUR Tsunami, Aceh, Shalat, Amerika, Kapal Induk, Kanada (8.5 / 10) (14) (4/10) (1 Resensi) Pagi 26 Desember 2004 Delisa sedang di muka kelas untuk ujian hafalan shalat. Ummi menunggu di luar kelas. Tiba di penghujung kalimat hafalan shalatnya, tsunami datang.
Jadiapalagi yang diragukan, film Hafalan Shalat DELISA wajib ditonton oleh ibu, bapak, kakek, nenek, dan anak-anak, mulai beredar di hari Ibu 22 Desember 2011. Sinopsis Hafalan Shalat Delisa Delisa (Chantiq Schagerl) gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga desa kecil di pantai Aceh, mempunyai hidup yang indah.
Resensiadalah pertimbangan buku, pembicaraan buku, atau ulasan buku dengan bahasa yang agak mentereng, berarti membedah, menganalisa, dan mencari roh atau inti dari buku. (Keraf, 2001: 247). Dari dua contoh tersebut tentu bisa diketahui bahwa semua unsur catatan tubuh diletakan di dalam tanda kurung..
Vorteile Und Nachteile Der Partnersuche Im Internet. Delisa, seorang gadis kecil yang tinggal bersama Ibu dan kakak – kakaknya di Pantai Lok Nga, Aceh. Mereka hidup sederhana sedangkan abinya adalah seorang pekerja di kapal yang tidak setiap waktu ada dirumah. “Delisa cinta ummi karena Allah”. Begitu ucap Delisa ketika usai shalat berjamaah bersama kakak – kakaknya. Esoknya ketika Delisa selesai mengaji, Delisa menghampiri Ustad dan mengatakan bahwa ia telah melakukan sesuatu yang telah diperintahkan ustad sebelumnya. “Jadi Delisa udah bilang ke Ummi kalo Delisa cinta sama Ummi karena Allah?”. Dan delisa menagih coklat yang pernah dijanjikan ustad. Film ini begitu mengingatkan kita bahwa banyak cara untuk memahamkan anak – anak agar mampu menghafal bacaan shalat juga memahaminya. Seperti suatu kali Delisa sedang menghafal di ayunan. Tak jauh dari situ, kedua kakaknya yang memang kembar yaitu Aisa dan Zahra tengah bermain congklak. Maka delisa berkali – kali mengulang kalimat “wanusuki – wamamati – wamayaya”. Kemudian mengucap kembali ketika dirasa tidak yakin “wanusuki – wama.. – wama.. “ Maka aisa yang sesekali tampak senewen pada adik kecilnya itu pun menggangu konsentrasi Delisa. “Mana ada mati dulu baru yaya.” Disini begitu ditampakkan bahwa anak kecil pun dapat diajarkan membaca bacaan doa atau yang menggunakan bahasa arab sekalipun sambil diberitahukan artinya. Maka mereka akan lebih mudah mengingatnya. Begitu trenyuh ketika Delisa tersadar dari pingsannya yang lama. Kemudian ia bangun dan melihat kakinya yang telah buntung sebelah. Lantas apa yang dikatakannya,” Mungkin kaki Delisa kebawa air ya?” Sofie, dokter yang merawatnya pun sungguh takjub akan sikap anak kecil itu. Mengharukan ketika ayah Umam datang berlari mendekati Umam yang sedang bermain bersama Dlisa, dan mengatakan bahwa umi telah ditemukan. Delisa pun berteriak “Abi, abi, umi sudah ketemu.” Dan dengan perasaan sangat tidak enak, ayah Umam pun mengatakan bahwa yang telah ditemukan adalah uminya Umam bukan umminya Delisa. Maka marah – lah ia kepadaNya. Namun, sesuai dengan karakter anak kecil yang polos, ia tak menyimpan dendam dengan siapapun juga kepadaNya yang tak kunjung mengembalikan umi Delisa. Ia tetap belajar dan terus mengahafal bacaan shalat. Tidak lagi untuk mendapatkan kalung. Ia hanya ingin dapat mendoakan saudara – saudaranya yang telah pergi. Keluarga sederhana ini begitu menyenangkan. Ummi yang begitu penyayang. Sosoknya yang juga mampu menjadi pengganti Abi selagi suaminya pergi bekerja. Begitu tulus, lembut. Dan sangat mengesankan ketika ummi menenangkan Aisa yang sempat iri kepada Delisa karena akan dibelikan sepeda jika ia telah hafal bacaan shalat. Abi seorang pria yang begitu penyayang. Menjaga delisa sepenuh hati ketika tak ada satupun anggota keluarganya yang tersisa. Film ini pun sangat menyegarkan karena diperankan oleh para insan perfilman yang memang masih tergolong muda. Delisa diperankan oleh Chantiq Shagerl, Ummi diperankan Nirina Zubir sedangkan Abi diperankan oleh Reza Rahadian. Jika tak ingin membuang uang percuma untuk sekedar menonton bioskop, film ini cukup direkomendasikan sebab banyak petualangan spiritual yang diberikan. Sukses untuk film Indonesia. Amin. 🙂
Novel Hafalan Shalat Delisa sampai bulan Januari, 2008 sudah memasuki cetakan ke VI. mengambil setting tempat di salah satu daerah korban bencana tsunami Aceh yaitu Lhok Nga. Mengisahkan tentang seorang gadis berusia 6 tahun yang berusaha menghafal bacaan shalat pada saat sebelum terjadinya tsunami. Banyak kejadian menarik namun penuh makna dan pelajaran hidup yang dapat kita petik dalam setiap cerita dalam novel Shalat DelisaPengarangTere LiyeTebal Bukuv + 248 halamanPenerbitRepublikaCetakanVI, Januari 2008Sinopsis Novel Hafalan Shalat DelisaNovel ini menceritakan seorang anak perempuan berumur enam tahun yang bernama Delisa. Delisa adalah seorang anak yang lugu, polos, dan suka bertanya. Ia anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarganya, kakak-kakaknya bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Mereka berdomisili di Aceh, tepatnya di Lhok Nga. Abinya bernama Usman dan uminya bernama mendapatkan tugas dari Ibu Guru Nur, yakni tugas menghafal bacaan sholat yang akan disetorkan pada hari minggu tanggal 26 Desember 2004. Motivasi dari Ummi yang berjanji akan memberikan hadiah jika ia berhasil menghafalkan bacaan sholat membuat semangat Delisa untuk telah menyiapkan hadiah kalung emas dua gram berliontin D untuk Delisa, sedangkan Abi akan membelikan sepeda untuk hafalan sholatnya jikalau lulus. Pagi itu hari minggu tanggal 24 Desember 2004, Delisa mempraktikkan hafalan sholatnya di depan Gempa bumi berkekuatan 8,9 SR yang disertai tsunami melanda bumi Aceh. Seketika keadaan berubah. Ketakutan dan kecemasan menerpa setiap jiwa saat itu. Namun, Delisa tetap melanjutkan hafalan sholatnya. Ketika hendak sujud yang pertama, air itu telah menghanyutkan semua yang ada, menghempaskan Delisa belum sempurna. Delisa kehilangan Ummi dan kakak-kakaknya. Enam hari Delisa tergolek antara sadar dan tidak. Ketika tubuhnya ditemukan oleh prajurit Smith yang kemudian menjadi mu’alaf dan berganti nama menjadi prajurit Salam. Bahkan pancaran cahaya Delisa telah mampu memberikan hidayah pada Smith untuk bermu’ waktu lamanya Delisa tidak sadarkan diri, keadaannya tidak kunjung membaik juga tidak sebaliknya. Sampai ketika seorang ibu yang di rawat sebelahnya melakukan sholat tahajud, pada bacaan sholat dimana hari itu hafalan shalat Delisa terputus, kesadaran dan kesehatan Delisa Delisa harus diamputasi. Delisa menerima tanpa mengeluh. Luka jahitan dan lebam disekujur tubuhnya tidak membuatnya berputus asa. Bahkan kondisi ini telah membawa ke pertemuan dengan Abinya. Pertemuan yang mengharukan. Abi tidak menyangka Delisa lebih kuat menerima semuanya. Menerima takdir yang telah digariskan oleh bulan setelah kejadian tsunami yang melanda Lhok Nga, Delisa sudah bisa menerima keadaan itu. Ia memulai kembali kehidupan dari awal bersama abinya. Hidup di barak pengungsian yang didirikan sukarelawan lokal maupun dengan orang-orang yang senasib, mereka korban tsunami yang kehilangan keluarga, sahabat, teman dan orang-orang terdekat. Beberapa bulan kemudian, Delisa mulai masuk sekolah kembali. Sekolah yang dibuka oleh tenaga sukarelawan. Delisa ingin menghafal bacaan tetapi susah, tampak lebih rumit dari sebelumnya. Delisa benar-benar lupa, tidak bisa mengingatnya. Lupa juga akan kalung berliontin D untuk delisa, lupa akan sepeda yang di janjikan abi. Delisa hanya ingin menghafal bacaan dari novel ini, Delisa mendapatkan kembali hafalan sholatnya. Sebelumnya malam itu Delisa bermimpi bertemu dengan umminya, yang menunjukkan kalung itu dan permintaan untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan sholatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan mampu melakukan Sholat Asharnya dengan sempurna untuk pertama kalinya, tanpa ada yang terlupa dan terbalik. Hafalan sholat karena Allah, bukan karena sebatang coklat, sebuah kalung, ataupun ketika, Delisa sedang mencuci tangan di tepian sungai, Delisa melihat ada pantulan cahaya matahari sore dari sebuah benda, cahaya itu menarik perhatian Delisa untuk mendekat. Delisa menemukan kalung D untuk Delisa dalam genggaman tangan manusia yang sudah tinggal tulang. Tangan manusia yang sudah tinggal tulang itu tidak lain adalah milik Ummi Delisa. Delisa sangat Juga Contoh resensi novel ayat ayat cintaUnsur Intrinsik Novel Hafalan Shalat DelisaA. Tokoh dan PenokohanDelisa Pemalas, manja, baik, dan suka memberi“Kak Fatimah ganggu saja… Delisa masih ngantuk!” Delisa bandel menarik bantak. Ditaruh di atas kepala. Malas mendengar suara tertawa Kak Salammah Baik, sabar, dan bijaksana“Tetapi doanya tetap nggak seperti itu kan, Delisa….” Ibu menambahkan. “Kamu kan dikasih tahu artinya oleh Ustadz Rahman… Nah kamu boleh baca seperti artinya itu… Itu lebih pas… Atau kalau Delisa mau lebih afdal lagi, ya pakai bahasa arabnya! Entar bangunnya insyaAllah nggak susah lagi… Ada malaikat yang membangunkan Baik dan perhatian “Delisa bangun, sayang…. Shubuh!” Fatimah, sulung berumur lima belas tahun membelai lembut pipi Delisa. Tersenyum Usil, iri hati, dan baik Delisa menggeliat. Geli. Cut Aisyah nakal menusuk hidungnya dengan bulu ayam penunjuk batas tadarus. Zahra Pendiam dan baik Abi Usman Baik dan saba Umam Jahil, usil, nakal, dan pemurung Tiur Baik dan pengertian Pak Cik Acan Baik, suka menolong dan suka memberi Shopie Baik dan penyayang serta pengertian Smith Adam Baik,penyayang dan suka menolong Ustadz Rahman Tawakkal, sabar, pengertian, dan baik hatiB. LatarLatar Tempat Desa kecil bernama Lhok-Nga pesisir pantai tinggal di komplek perumahan sederhana. Dekat sekali dengan pantai. Lhok Nga memang tepat di tubir pantai. Pantai yang indah. Rumah mereka paling berjarak empat ratus meter dari pantai. Komplek itu seperti perumahan di seluruh kota Lhok Nga, religius dan Waktu Pada saat Delisa menjalani test hafalan itu, Sabtu 25 Desember 2003. Sehari sebelum badai tsunami menghancurkan pesisir Lhok Nga. Sebelum alam kejam sekali merenggut semua kebahagiaan Suasana Suasana saat akan terjadi Gempa sangat tragis, seluruh orang pergi berhamburan mencari tempat yang itu menyentuh tembok sekolah. Beberapa detik sebelumnya terdengar suara bergemuruh. Juga teriakan-teriakan ketakutan orang di luar. Delisa tidak melihat betapa menggentarkan sapuan gelombang raksasa itu. Delisa mendengar suara mengerikan itu. Tetapi Delisa sedang khusuk. Delisa ingin menyelesaikan hafalan shalatnya dengan baik. Ya Allah Delisa ingin berpikiran satu. Maka ia tidak bergeming dari AlurMaju – mundur – maju campuranAlur dari cerita ini yaitu maju, mundur, maju campuran karena pada novel ini digambarkan bahwa Delisa mengenang masa-masa saat sebelum keluarganya meninggal karena bencana Tsunami.“Ummi? Delisa tiba-tiba ingat Ummi. Ya Allah dimana Ummi. Kepala Delisa berputar mencari. Di mana pula Kak Fatimah? Kak Zahra? Kak Aisyah? Di mana mereka? “Pelan kenangan itu kembali. Lambat Delisa mengingat kejadian enam hari lalu. Delisa sama sekali tidak pernah tahu, hamper seminggu ia sudah terjerambab di atas semak-belukar tersebut. Sekolah! Ia di sekolah pagi hari itu. Ia bukankah sedang menghadap Ibu Guru Nur menghafal bacaan Tema dan Amanat Hafalan Shalat DelisaTeruslah Bersyukur dengan apa yang telah di berikan Oleh Allah pernah putus asa dan tetap semangatlah menjalani hidup Keluargamu seperti mereka Sudut PandangOrang ketiga serba Juga Sinopsis novel raditya dika cinta brontosaurusKeunggulan NovelBuku ini disajikan dengan bahasa yang jalan ceritanya yang sama dengan peristiwa di kejadian nyata, memungkinkan pembaca untuk berimajinasi lebih jauh tentang cerita dari novel itu yang universal sehingga dapat diterima oleh semua terkandung amanat-amanat dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang islami dan penuh kasih dengan footnote yang berisi tentang pelajaran yang dapat diambil pembaca dari cerita yang sedang terjadi pada novel NovelMasih ada kata-kata yang kurang dapat dimengerti oleh sebagian kalangan, seperti ayat-ayat suci Al-quran, bahasa daerah, dan Juga Sinopsis novel 3600 detik dan unsur intrinsiknya
Judul Fim Hafalan Shalat Delisa Kategori film Semua Umur Jenis Film Drama Produser Chand Parwez Servia Produksi PT KHARISMA STARVISION PLUS Sutradara Sony Gaokasak Pemain Chantiq Schagerl, Fathir Muchtar, Gina Salsabila, Loide Christina Teixeira Mike Lewis, Nirina Zubir, Reza Rahadian, Teuku Umam, Hannah Al Rashid, Riska Tania Apriadi, Reska Tania Apriadi, Joehana Sutisna Tanggal tayang Mulai 22 Desember 2011 Durasi 106 menit Novel Hafalan Shalat Delisa Penulis Tere-Liye Musik Tya Subiakto Sinematografi Bambang Supriadi EditorCesa David Luckmansyah Negara Indonesia Bahasa Indonesia Film Hafalan Shalat Delisa adalah sebuah film yang mengangkat cerita dari salah satu karya novelis Indonesia. Penulis Novel itu mempunyai nama pena Tere-Liye. Sesuai dengan cerita yang terdapat dalam novel, bahwa cerita ini terilhami dari kisah nyata, yaitu kisah bencana tsunami di Aceh. Film ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Delisa dengan kehidupan yang dijalaninya bersama Umi, Abi, kakak-kakaknya, guru-guru dan teman-temannya. Delisa adalah seorang anak yang sangat ceria, polos, pintar dan sedikit usil. Namun dalam keluguannya ia memiliki sisi kedewasaan yang jarang dimiliki oleh anak seumurannya yang lain. Film ini mengangkat tema keikhlasan. Seperti halnya yang dikisahkan dalam film tersebut yaitu bagaimana anak seusia Delisa belajar mengaplikasikan keikhlasan dalam setiap alur kehidupan yang dilaluinya kendati ia masih belia. Ia mencoba ikhlas menerima kehilangan ummi yang sangat dicintainya, berpisah dengan kakak-kakak dan teman-temannya, bahkan kehilangan salah satu anggota badannya, setelah kejadian tsunami melanda Lhok Nga, kawasan pantai tempat kediaman dirinya dan keluarganya. Gadis kecil itu tak hanya harus mengaplikasikan keikhlasan dalam menerima hilangnya sesuatu yang sangat dikasihi, namun dalam melakukan sesuatu, apapun itu harus selalu diiringi dengan keikhlasan. Seperti usahanya untuk lulus dalam ujian praktek shalat. Ia merasa kesulitan untuk menghafal bacaan shalatnya, entah itu terbalik bacaannya ataupun lupa akan bacaan yang baru saja ia hafalkan. Namun akhirnya ia menyadari lewat jawaban guru ngajinya yang dengan sabar menjelaskan kepolosan pertanyaan Delisa. Delisa dengan keluguannya akhirnya menyadari bahwa selama ini usahanya mengahafalkan bacaan shalat adalah ingin lulus dalam ujian praktek shalat dan berhasil memperoleh hadiah kalung emas yang telah dijanjikan umminya. Film yang disutradarai oleh Sony Gaokasak ini memang terilhami oleh kejadian Tsunami tujuh tahun yang lalu. Namun karena kejadian itu merupakan kejadian yang tak biasa, maka sutradara tak terlalu memfokuskan alur cerita pada kejadian bencana alam tersebut. Akan tetapi ia memfokuskan alur cerita pada tema yang digarapnya dalam pembuatan film ini. Akan tetapi sedikit sentuhan CGI Computer Graphic Intermediate yang disumbangkan oleh tim Geppeto telah mewakili pengilhaman cerita yang berdasarkan kejadian bencana tsunami. Sony Gaokasak adalah seorang sutradara yang cukup memiliki profesionalitas yang baik dalam berkarya. Seperti karyanya yang lain Film berjudul Tentang Cinta. Ia selalu mengutamakan kualitas, walaupun harus harus memakan waktu yang tidak sebentar, baik dalam mencari peran yang cocok untuk filmnya dalam Film Tentang Cinta atau hanya sekedar mencari setting yang tepat untuk pembuatan filmnya. Seperti film Hafalan Shalat Delisa yang ia akui persiapan produksi untuk film ini memakan waktu sekitar dua tahun lamanya. Sony Gaokasak memfilmkan novel HSD karena prestasi novel yang telah banyak menarik perhatian pembaca novel yang tak hanya berasal dari dalam tapi juga dari luar negeri. Novel yang telah menggugah hati jutaan pembaca Tanah Air dan negara-negara lain itulah yang menjadi dasar pemikiran untuk segera memfilmkan novel Hafalan Shalat DELISA. *catatan sony gaokasak dalam facebook Film yang berdurasi sekitar 106 menit ini sangat cocok ditonton oleh semua kalangan, karena film ini memiliki banyak pelajaran penting yang dapat kita ambil. Tak seperti film-film lain yang berbeda genre atau drama romantic yang sering mempertunjukkan sajian-sajian yang sedikit sekali mengandung unsur kebaikan apalagi unsur edukasi, dan mayoritas hanya mengandalkan sisi kormersialitas film di pasar perfilman. Bagian yang paling menarik dan paling menyentuh dalam novel ini adalah ketika Delisa protes dan mengurai air matanya seraya menyampaikan pertanyaan atas semua orang yang tega meninggalkannya sendiri. Ummi, Kak Fatimah, Aisyah, Zahra, Tiur, dan yang lainnya. Pada bagian itu sangat tampak Delisa yang hanya seorang anak kecil harus menerima kenyataan bahwa ia harus merelakan orang-orang yang selama ini dekat dengannya. Para pemain film hafalan Shalat Delisa sangat terlihat berusaha menjiwai perannya masing-masing. Tetapi dalam beberapa peran seperti tokoh Suster Soffie dan si kembar Zahra dan Aisha terlihat masih sedikit kaku dalam menjiwai dan memerankan tokohnya. Sekian resensi film Hafalan Shalat Dellisa yang dapat saya kemukakan. Terima Kasih 🙂
JAKARTA, - Hafalan Shalat Delisa merupakan film arahan sutradara Sony Gaokasak yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Tere Liye. Film yang dirilis pada 22 Desember 2011 ini berkisah tentang tragedi tsunami Aceh. Cerita film Hafalan Shalat Delisa berfokus pada kisah gadis kecil bernama Delisa Chantiq Schargerl.Ia bersama keluarganya tinggal di Lhok Nga, sebuah desa kecil yang berada di tepi pantai Aceh. Baca juga Kemarin, Film Dokumenter Perjalanan Seventeen dan Tragedi Tsunami Banten Ayahnya, Abi Usman Reza Rahadian, bekerja di sebuah kapal tanker perusahaan minyak internasional. Ketika ayahnya bekerja, Delisa menghabiskan waktunya bersama sang ibu Nirina Zubir serta ketiga kakaknya, Fatimah Ghina Salsabila dan si kembar Aisyah Reska Tania Apriadi dan Zahra Riska Tania Apriadi. Pada 26 Desember 2004, tepat sebelum tsunami menerjang, Delisa bersama ibunya sedang bersiap untuk ujian praktik shalat. Tiba-tiba, terjadi gempa sangat dahsyat dan membuat keluarga Delisa begitu ketakutan. Baca juga Sinopsis Get Married 2, Prahara Rumah Tangga Nirina Zubir dan Nino Fernandez Tak lama kemudian, tsunami datang dan memporak-porandakan desa kecilnya. Tubuh kecil Delisa bersama ratusan ribu warga lainnya hanyut terbawa arus entah ke mana. Setelah berhari-hari pingsan dan terdampar di cadas bukit, Delisa akhirnya diselamatkan Smith Mike Lewis, tentara Angkatan Darat Amerika. Sayangnya, Delisa mengalami luka cukup parah hingga membuat kakinya harus diamputasi. Baca juga Sinopsis Trinity The Nekad Traveler, Kisah Maudy Ayunda Jadi Traveler Ayah Delisa, yang mendengar bencana tersebut, langsung pulang menuju tempat tinggalnya. Ia pun harus menerima fakta kalau ketiga putrinya telah ditemukan tak bernyawa, sementara istrinya masih hilang. Abi Usman segera mencari Delisa dan menemukan putrinya itu sedang dirawat Smith. Sebelum sang ayah datang, Smith bahkan sempat berniat mengadopsi Delisa. Baca juga Sinopsis Denting Kematian, Kutukan Kotak Musik Tua Delisa sangat senang bisa berkumpul dengan ayahnya lagi. Meski begitu, ia juga tak bisa menyembunyikan kesedihan karena kehilangan kakak dan ibunya. Bagi Anda yang penasaran dengan kelanjutan kisah Delisa dan ayahnya, saksikan film Hafalan Shalat Delisa yang tayang di Netflix mulai Kamis 22/10/2020. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tsunami Merenggut KebahagiaankuResensi Novel Hafalan Shalat DelisaRuang Resensi Ahad, 26 Desember 2004 menjadi hari yang tak pernah terlupakan bagi rakyat Indonesia. Khususnya, orang-orang yang tinggal di Nanggroe Aceh Darussalam. Makhluk asing bernama tsunami tiba-tiba datang menjamah dataran bumi yang konon bergelar Serambi Mekkah itu. Kubik-kubik air laut yang tak terhitung jumlahnya ditumpahkan ke darat, menyapu segala sesuatu; gedung-gedung, kantor-kantor, rumah-rumah, hingga panik, teriakan, jeritan, dan tangisan bercampur dengan hantaman air ke segala penjuru. Setiap orang berjuang untuk menyelamatkan diri sendiri; orang tua lupa pada anaknya, suami lupa pada istrinya, saudara lupa saudaranya. Seolah-olah gambaran kiamat yang kelak akan mengakhiri Liye yang sedang makan siang di kamar kostan ukuran 2x3 m sambil menatap televisi, tersedu dan menangis setelah menonton berita anak-anak yang kakinya diamputasi pasca tsunami. Kemudian bersumpah untuk menulis kisah yang amat sederhana tentang kejadian menyakitkan tersebut. Lalu lahirlah novel Hafalan Shalat Delisa Novel Hafalan Shalat DelisaDelisa berumur 6 tahun dan memiliki tiga saudara; Fatimah, Aisyah, dan Zahra. Ibunya, Ummu Salamah adalah seorang penjahit sekaligus pembordir pakaian yang sering dipesan oleh tetangga-tetangga dekat rumahnya. Sedang Abi Usman, ayahnya, bekerja di kapal tanker perusahaan minyak Delisa tinggal di komplek perumahan sederhana. Tepatnya, di sebuah daerah tepi pantai bernama Lhok Nga. Kehidupan gadis ini biasa-biasa saja. Layaknya, anak anak yang seumuran dengannya; pergi ke sekolah, bermain hingga sore, mengaji, bercanda dengan kakak-kakaknya, dan keluarganya ada salah satu kebiasaan yang sudah berjalan lama, yaitu memberikan hadiah kalung emas bagi setiap anak yang menyelesaikan tugas hafalan shalat dari sekolah. Seperti yang telah dilakukan Fatimah, Aisyah, dan Zahra. Delisa sebagai anak paling bungsu akhirnya mendapat terhadap kalung emas menjadikannya terpacu untuk menuntaskan hafalan. Akan tetapi, hal tersebut tidak mudah. Hari-harinya terasa rumit. Hafalannya morat-marit. Bacaannya terbolak balik. Sering lupa, dan macam-macamlah akhirnya, Aisyah membuat tekhnik jembatan keledai untuk membantunya. Benar saja, dengan cara itu, dia menjadi lebih lancar dan mudah dalam yang dinanti akhirnya tiba. Delisa berangkat bersama umminya ke sekolah untuk ujian hafalan. Sungguh, keduanya tidak tahu bahwa hari itu adalah hari yang sangat per satu anak menyetorkan hafalan sekaligus praktik hingga tiba urutan Delisa. Persis, ketika dia mengangkat takbiratul ihram dan ucapan itu hilang dari lisannya ... lantai laut retak. Seketika dasar bumi runtuh dan merekah sampai ratusan kilometer. Gempa menjalar dahsyat, mengguncang Banda Aceh hingga Lhok yang terkena pecahan kaca pas bunga akibat gempa tetap tak hirau dan berusaha meneruskan bacaannya. Sementara itu, gelombang tsunami yang menggulung lautan sedang menyapu ke bibir pantai. Lalu, tanpa ampun memberangus semuanya; pepohonan kelapa, lapangan bola, tiang-tiang gawang, rumah-rumah warga, hingga meunasah yang dia mengangkat takbir untuk bersujud, air menerabas ke sekolah. Menghantam tembok hingga rekah. Dirinya tersapu. Terseret air. Terlempar ke mana-mana. Tubuhnya yang rapuh terbentur segala macam benda. Luka dan lebam di sana itu, Ahad 26 desember 2004 menjadi catatan kelam di Bumi Pertiwi. Terkhusus lagi bagi orang-orang yang baru pertama seluruh dunia berhiruk pikuk dengan bencana, bersama kesedihan yang menyeruak di mana-mana. Delisa tidak diketahui keberadaannya. Entah hidup atau mati ....Kelebihan dan Kekurangan Novel Hafalan Shalat DelisaSebagai novel pertama yang ditulis oleh Tere Liye, novel ini patut diapresiasi. Muatannya terasa emosional karena memang bersentuhan langsung dengan kehidupan banyak pembaca. Karya yang lahir setahun setelah bencana tsunami tidak bisa dikatakan terlambat. Bagaimanapun, saat itu masih banyak orang yang merasakan trauma dan guncangan. Ditambah lagi, Nanggroe Aceh belum sepenuhnya pulih. Sisa-sisa tsunami masih bisa ditemukan di segala hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari Hafalan Shalat Delisa. Salah satunya, peran orang tua dalam memberi semangat dan dukungan pada anaknya saat belajar agama. Juga persembahan reward bagi setiap pencapaiannya. Walau sekadar menghafal bacaan shalat yang nampak remeh dan novel ini datang dengan konflik yang sangat sederhana. Berkutat pada Delisa yang kesulitan berjuang menghafal bacaan shalat, serta hasrat untuk memiliki kalung emas. Itu saja. Bagian-bagian awal pun terasa sangat menjenuhkan. Akan tetapi, novel ini terselamatkan dengan mengangkat bencana tsunami, sehingga melebur dan memenangkan banyak itu, catatan kaki yang berisi komentar penulis malah berlebihan dan mengganggu. Walau tujuannya untuk mempengaruhi sentimen pembaca, mempertajam keadaan tokoh, atau menjelaskan impresi penulis ketika menoreh naskah ini, tetap saja nampak terlalu entah penulis yang luput atau editor yang lalai, penukilan sepotong ayat Al-Quran surah asy-Syarh ayat 5 tidak tepat. Seharusnya Fainna ma'al 'usri yusro, bukan painnakal 'usri yusro hal 124.*Kesimpulan novel Hafalan Shalat Delisa berkisah tentang gadis bernama Delisa yang berjuang untuk menghafal bacaan shalat demi mendapatkan hadiah berupa kalung emas. Namun, di tengah perjuangan itu, tiba-tiba tsunami melanda tempat NovelJudul Hafalan Shalat DelisaPengarang Tere LiyePenerbit RepublikaTahun Terbit 2005Tebal 270 halamanISBN 978-979-321-060-5Harga - resensi novel Hafalan Shalat Delisa. Semoga bermanfaat.*Novel cetakan ke XII terbit tahun 2010. Walau sudah 12 kali cetak, kekeliruan ini belum juga Resensi Novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya Keigo Higashino
resensi film hafalan shalat delisa